
Maldive...wait me....i will come.
It's a Lagoon Sandy Beach in Maldive front of Shangrila Vilingili's Resorts n Spa....
impian.....
dreams comes true...
xpresion
Beri Kesempatan
Pagi yang cerah untuk kunikmati. Hmm… angin pagi menyapaku melalui jendela kamar yang telah terbuka. Semilir angin berhembus menusuk hingga tulangku. Kulihat jam weker di samping tempat tidurku. Baru pukul 5.30, masih sangat pagi untuk ukuran kota sibuk di Jakarta seperti ini. Hm…aku teringat kembali. Aku sedang tidak berada dirumah. Aku tidak di Jakarta. Aku di Jogjakarta. Tepatnya di rumah bibiku. Kali ini kulewati masa liburku di Jogja. Kota Gudeg, orang awam sering menyebutnya. Pintu kamarku terketuk, membuyarkan lamunanku. Dengan malas aku bangkit, secepatnya kukenakan sandal. Bibi dengan penuh senyum yang lembut berdiri di depan pintu dengan nampan berisi segelas susu dan roti. “Sarapan dulu ya…trid”ucap bibi dengan sabar.
“iya..sebentar lagi bi…”sahutku malas. Kuterima nampan dengan malas. Dengan langkah gontai aku kembali masuk ke kamar, kuletakkan nampan di meja kecil di samping tempat tidurku. Tiba-tiba ingatanku melayang pada Yoga Adytama. Apa yang dia lakukan saat ini?. Dengan gesit kuraih ponsel di atas kasur, dengan segera kucari nama “My Lovely Boy”. Kudial. Nada sambung telah berbunyi. Kenapa tidak diangkat ?gumamku dalam hati. Aku melirik jam menujukkan 6.00 pagi. Oh…jelas saja dia tidak mengangkat. Ini masih pagi sekali untuk ukuran kota Jakarta.Dia masih tertidur pulas. Bodohnya aku. Sambil meloncat dari tempat tidur, kulangkahkan kakiku kekamar mandi.
Setelah selesai kusantap roti dan kuteguk segelas susu. Aku keluar menuju, ruang depan. Bibi dan Paman duduk berdua. “Pagi…”ucapku sambil tersenyum. “Selamat pagi…trid. Sudah sarapan?”Tanya Paman. “Sudah..”ucapku cepat. Kuambil Koran yang ada diatas meja.Setelah kubuka lembar demi lembar. Tak ada berita yang menarik. Hanya berita kriminal,ekonomi,kesehatan dan sepotong gossip selebritis.
“Hari ini kamu mau jalan-jalan kemana dulu, ke Candi Prambanan atau Pantai Parangtritis.?”Tanya paman sambil menyulut sebatang rokok. “Terserah paman saja…kemana dulu. Aku ikut saja”ucapku mantap.
“Baiklah kalau begitu kita pergi ke Candi setelah itu ke Parangtritis. Kamu kembali ke Jakarta kapan..trid?”ucap bibi. “Besok lusa…. Besok aku akan membeli oleh-oleh buat teman-temanku…”. “Pak Yayat, besok bisa mengantarmu ke Malioboro. Maafkan paman tidak bisa mengantarmu…Paman besok harus bertemu klien.”. “Tidak apa-apa…seharusnya Astrid yang berterimakasih pada paman dan bibi karena Astrid bisa berlibur disini dengan gratis.”
***************************
Pagi ini, aku pergi ke Malioboro. Sesuai dengan rencana kemarin aku akan membeli oleh-oleh untuk teman-temanku di Jakarta. Hmm…cuaca yang panas tidak menyurutkan aku untuk berjalan berkeliling pasar Malioboro. Berbagai souvenir, mulai dari baju batik, patung, makanan khas Yogja semua ada disini. Harga yang ditawarkan pun bervariasi. Mulai dari 1000 perak hingga 100.000 untuk makanan khas ada disini. Akhirnya kuhentikan langkahku, di sebuah toko yang menjual makanan khas paling lengkap di Yogja. Kuambil trolly bag, dengan segera aku mengambil beberapa lusin bakpia pathok, manisan, dan kacang Jogja. Kuhentikan langkahku, ponslku berdering. Aku sangat berharap Yoga yang menelponku, tapi ternyata bukan dia. Best Friend…. Oh…Mila yang menelpon. “apa mil??gue sekarang ada di Malioboro, beli oleh-oleh…”
“Weesss… yang di Jogja nih. Gue beliin gudeg ya…gue ngidam gudeg nih…hehehe…”.
“Gila lu…gue sampe di Jakarta gudegnya udah basi tau…. Eh…ngomong-ngomong lu tahu si Yoga kemana ngga?dah 2 hari ini dia ngga sms ato telp gue. Dia ngga napa-napa kan?”ucapku tidak sabar.
“Gue ngga tau…trid”ucap Mila. Segurat perasaan tidak enak singgah di hatiku. Ucapan Mila benar-benar terdengar datar. Tanpa emosi. Ada apa sebenarnya? Gumamku dalamhati.
“Lu..ngga apa-apa kan, mil..??lu sakit?”
“Ngga…ngga…gue ngga papa kok” Tiba-tiba nada suara Mila kembali seperti semula.
“Gimana kabar lu?,Lu ngga ngerepotin paman n bibi lu kan?”
“Oh…gue ngga papa.Gue sehat-sehat aja kok.Ngerepotin??? Ngga lagi…paman n bibi gue kan baik, ngga kayak lu!!!hahahahahaha….Gila…bok, disini beda banget sama di Jakarta. Bayangin aja, di sini gue tiap hari harus bangun jam setengah 6 pagi. Padahal…lu tau sendiri kan gue di Jakarta, biasa bangun molor. Kadang aja sampe kesiangan…hahahahaha…”tak sadar tawaku terdengar keras sekali. Orang-orang disekitarku melihat dengan heran. Segera aku, menutup mulutku dengan tangan.
“Eh…mil, sampe disini dulu aja ya. Gue diliatin orang disekitar gue. Kita sambung nanti ya…yuukkk. Bye…cewek.”.
“Ati-ati lu disana. Ntar dikira gila lagi. Ketawa sendiri…hehehe…”
“Dasar lu…mil, eh..kalau ketemu Yoga bilang ya…Gue kangen banget ma dia. Dah…”
“Dah…ati-ati ya…trid”suara Mila terdengar datar sekali. Lemah.
“Ngga pake…yuukkk nih.”
“Trid…”suara Mila terdengar lemah. Tapi, tiba-tiba hp Mila tertutup. Tut…tut…tut
Ada apa sebenarnya?Apa yang terjadi dengan Mila?. Seseorang menepuk bahuku. Aku terhenyak kaget. Aku menoleh kebelakang.
“Sudah selesai non…??”Tanya Pak Yayat.
“Oh…sudah”ucapku singkat sesudah aku dapat menguasai kondisi kembali.
Pikiranku selalu dibayangi oleh Yoga. Sudah 2 hari ini dia tidak memberi kabar padaku. Setiap kali aku menelponnya, tidak pernah diangkat. Telpon rumahnya, selalu mengatakan dia sedang pergi. Kemana Yoga?Apa yang terjadi dengan Yoga?.
Mila. Mila sendiri juga berubah. Apa yang sebenarnya terjadi?. Malam semakin kelam. Tapi sedetikpun aku tidak bisa menutup mataku. Pikiranku selalu berkecamuk dengan Yoga. Yoga dan Yoga. Padahal besok aku harus bangun pagi untuk persiapan packing pulang. Dadaku semakin panas. Keringat dingin membasahi wajahku. Sudah beberapa kali, kubalikkan tubuhku di tempat tidur. Mataku sungguh tidak ingin terpejam. Ya…Tuhan. Ada apa juga dengan diriku?
Kulihat jam menunjukkan pukul 1.00 pagi. Akhirnya kuhempaskan tubuhku bangkit. Dengan kepala yang agak berat aku melangkah mencari sandalku dan menuju ke kamar mandi. Kubasuh wajahku. Saat kudongakkan kepalaku menghadap ke cermin. Aku terhenyak kaget. “Oh…My God” pekikku. Wajahku sungguh pucat. Mataku cekung ke dalam. Sayu. Kantung mataku hitam. Segera aku melangkah keluar. Mencari obat penenang. Saat ku teguk obat tersebut. Sedikit demi sedikit jantungku mulai berdegup normal. Tiba-tiba aku menguap. Mataku terasa sangat berat. Kali ini mataku sudah tak mampu lagi berkompromi.
***********************************
Ketika pagi, aku bangun. Aku benar-benar kaget. Semalaman aku tidur di sofa. Dengan agak lemas aku bangkit dari sofa. Bibi yang terduduk di meja makan, terlihat kaget melihat wajahku. “Kamu kenapa…trid??wajahmu pucat sekali…”Tanya bibi dengan penuh kekhawatiran. Dengan segera bibi membimbingku yang sudah berjalan terhuyung-huyung menuju kekamar. “Lebih baik kamu istirahat saja…trid. Besok saja kamu pulang. Paman akan membatalkan tiketmu…”ucap bibi dengan khawatir.
“Tidak…bi, aku harus pulang. Aku mau pulang…”
“Tidak…Astrid. Lebih baik kamu pulang besok saja, paman yang akan mengantarmu. Sekarang kamu istirahat saja.”ucap Paman tegas. “Tidak…paman aku tidak apa-apa. Aku harus pulang hari ini.”ucapku kukuh.
“Astrid…”seru pamannya. Dengan tatapan tajam. Kali ini kalimat yang diucapkannya lebih mirip sebuah perintah. Tak ayal Astrid, yang bergegas ingin turun dari ranjang pelan-pelan kembali terbaring dengan wajah lesu.
“Sudahlah…trid. Turuti saja pamanmu. Daripada kondisimu bertambah parah di pesawat nanti. Akan lebih merepotkan.”ucap bibi dengan sabar.
“Tapi aku ingin pulang. Aku ingin pulang…”tak terasa air mata mulai menitik di pipiku.
“Bibi tahu, kamu sudah sangat rindu dengan siapa itu..??”
“Yoga…”sahutku lemah. “Dasar anak muda jaman sekarang, baru tidak bertemu seminggu saja sudah seperti ini…Kamu sungguh berbeda dengan ibumu. Dulu waktu ibumu bepacaran dengan ayahmu, jarang sekali mereka bertemu. Sekalinya bertemu mereka hanya bisa saling pandang. Karena dulu kakekmu tidak merestui hubungan mereka…”ucap bibi dengan bangga. Seolah-olah, dia telah menceritakan tentang jasa pahlawan Indonesia.
“Bibi sungguh kagum dengan ibumu…Mereka benar-benar berani”
“Trima kasih…bi. Mama dan papa memang orang yang pemberani. Mereka tidak kenal takut.”ucapku menimpali.
“Sudahlah…sekarang kamu istirahat saja. Bibi akan buatkan bubur untukmu.”
Namun cerita yang baru saja kudengar, tidak dapat membuatku tenang. Pikiranku masih tetap terarah pada Yoga. Yoga Adytama. Lelaki yang unik. Bukan hanya tubuhnya yang atletis yang membuatku kagum. Tapi keberaniannya yang meluluhkan hati. Tanpa melihat badai di depannya dia sudah menerobos maju. Yoga yang cerdik. Penuh akal. Senyumnya yang manis.Hhh…apa yang dia lakukan sekarang.?.
Kupandangi saja foto yang terdapat pada dompetku. Foto yang kuambil saat dia sedang mengendarai motornya. Sungguh gagah.
Tiba-tiba saja hpku berbunyi. My Lovely Boy. “Yoga…”ucapku kaget. Tombol yes segera aku tekan. “Yoga…kmu kemana saja?kok ngga pernah kasih kabar. Ada apa?kamu tidak apa-apa kan?Kamu sekarang lagi ngapain?”ucapku dengan pertanyaan yang memburu.
“Trid…”suara Yoga terdengar datar.
“Yoga…kamu kenapa?Maafkan aku…aku ngga bisa pulang hari ini. Kamu marah ya?Maafin aku..”
“Trid…aku ingin bicara. Mila…”
“Hhh..Mila ….ada apa dengan Mila?”
“Mila sakit. Hidupnya…”suara Yoga terdengar berat.
“Sakit?Mila sakit apa?tapi kemarin….”
“Dia menderita leukemia…hidupnya tinggal sebentar.”sahut Yoga
“Leukimia…!!???tidak…tidak mungkin. Selama ini Mila baik-baik saja. Dia selalu sehat. Tidak pernah kulihat dia mengeluh sakit padaku…”
“Dia memang tidak pernah mengatakannya padamu. Karena dia tidak ingin kau sedih…trid. Dia benar-benar sayang padamu”
“Tidak…Mila…Kemarin dia masih menelponku, dan bercanda gurau denganku. Tapi…”
Mungkinkah kemarin dia ingin mengatakannya. Sudah sering bulan-bulan terakhir ini dia berbicara denganku. Tapi, aku selalu mendominasi pembicaraan. Mila hanya mendengarkan semua omonganku dengan tenang. Dan bukan hanya bulan-bulan akhir ini saja. Selama kami berteman
“Yog…mungkinkah saat kemarin Mila menelpon, dia ingin…”
“Ya…kemarin aku bertemu dengannya. Dan akulah yang menyuruhnya menelponmu…”
“Kemarin…Dia bertemu denganmu. Tapi, mengapa dia mengatakan tidak tahu, saat aku menanyakanmu…”
“Maafkan aku…trid”ucapnya lemah
“Ada apa Yog?”
“Aku menyayangi Mila…Aku tidak tega melihatnya menderita. Ijinkan aku…”
“Yoga…kau!!!”
“Iya…trid. Aku meminta restumu”
“Tidak…aku tidak mengijinkanmu . Tidak akan kubagi sayangku kepada orang lain. Walaupun itu sahabatku…Tidak!!”ucapku keras. Sesaat kami berdua diam.
“Ijinkan aku…trid”ucapnya memelas. Belum pernah kudengar Yoga memelas. Yoga yang selalu kuat.
“Tidak…Yoga. Aku tidak akan membagimu. Walaupun untuk Mila!!”ucapku tegas.
“Beri dia kesempatan yang terakhir kalinya…untuk merasakan rasanya disayangi…”
“Tidak….aku tidak mau.”
“Baiklah…kalau itu memang maumu. Aku tidak akan memaksa. Aku hanya ingin menyampaikan Mila opname sejak kemarin malam…”ucapnya sesaat sebelum menutup telpon. Air mata membasahi wajahku. 2 orang yang aku sayangi harus seperti ini…
Saat ku menelpon Mila. Hpnya tidak aktif. Pembantunya mengatakan Mila dirawat di rumah sakit.
**************************************
Pagi ini, aku akan kembali ke Jakarta. Tubuhku masih terasa agak lemah. Namun aku tetap bersikeras untuk pulang. “Trid…lebih baik kau istirahat sampai benar-benar pulih..”ucap bibi khawatir.
“Tidak…aku sudah sehat. Aku harus pulang ke Jakarta. “
Saat aku menaiki mobil menuju bandara. Hatiku berkecamuk tidak karuan. “Masih terus…”ucap paman saat sampai di bandara. Kukumpulkan segenap tenagaku. “Masih…”ucapku mantap.
Sesaat sebelum take off. Paman memelukku erat. “Hati-hati..jagalah dirimu”
“Ya…Terima kasih paman. Maafkan Astrid…”
“Tidak perlu…”ucapnya sambil memegang bahuku.
Pesawat melaju ke udara dengan gagahnya. Aku terdiam. Pikiranku kacau. Hanya suara sang kapten yang menyatakan kepada para penumpangnya untuk segera memakai set belt . Sebentar lagi. Sebentar lagi aku akan datang Jakarta. Jakarta yang penuh polusi. Jakarta yang padat. Jakarta yang penat. Sepenat hatiku. Saat pesawat mendaratkan rodanya. Jantungku berdegup semakin kencang. Pesawat berhenti tanpa halangan. Namun, tak setenang hatiku. Setelah ku ambil tasku. Aku segera berjalan keluar mencari taksi, karena aku tahu kedua orang tuaku tidak menjemputku. Mereka sibuk dengan pekerjaannya.
“Pak..kerumah sakit…”ucapku saat memasuki taksi. Hp kuhidupkan. Ada 2 pesan masuk. “Yoga…”saatku membaca pesannya. “Pak…tolong cepat sedikit”. Mila kritis. Pesan dari Yoga yang singkat.
Yoga menelponku. “Halo…”
“Trid…kamu dimana?Mila kritis…”
“Aku segera kesana…”hubungan terputus.
“Sialan…pake macet segala…”ucap sopir geram
“Duh…gimana nih?ehm…pak nanti diperempatan belok kanan saja. Saya tahu tembusannya….”ucapku mantap
Taksi melaju kencang, melalui kampung-kampung. Dengan segala upaya yang ada Si sopir, berusaha menghindari kemacetan Sudah tak kupikirkan lagi berapa argo itu…
“Trid…beri dia kesempatan”. “Tidak!!”. “Teganya kau…walau hayatnya hampir tiba kau tidak memberinya kesempatan terakhir. Setelah itu aku akan kembali padamu.”
“Tidak…aku tidak mau. Aku bukan barang bekas.”Telpon terputus.
Akhirnya setelah melalui rute tembusan yang jauh. Aku sudah sampai. 2 jam aku berputar di Jakarta. Entah berapa ratus ribu yang sudah aku keluarkan. Aku tidak peduli.
Namun, semua usahaku sia-sia. Aku terlambat. Mila sudah menghadap yang Diatas terlebih dahulu sebelum aku bertemu dengannya untuk terakhir kali. Dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah mendung. “Maaf, kami sudah berusaha…”ucap dokter itu lirih. Air mata mulai menetes di kedua pipiku. “Tidak….tidak…selamatkan Mila dok!!”teriak histeris ibu Mila. “Maaf, bu…kami sudah berusaha dengan sepenuhnya. Namun Yang Diatas berkehendak lain”.
“Mila anakku…”ucap ibu itu dengan memasuki ruang operasi.
***************************************
Pagi yang cerah, sinar matahari memancarkan sinarnya. Suasana pemakaman Mila dipenuhi para pelayat. “anakku…Mila “ucap ibu Mila dengan penuh sendu sambil memeluk nisan putrinya. Akupun berlutut disamping nisan Mila. “Maafkan aku Mil…”.”Aku bukan seorang sahabat yang baik….”.”Maafkan aku….”ucapku dengan tersungkur ditanah. Seseorang mendekatiku dan ikut berlutut disampingku. “Ini bukan salahmu trid. Semua sudah waktunya”.”Yoga…”ucapku lirih. Aku memeluk Yoga dengan penuh air mata.” Maafkan aku yog…Semua karena aku….”tangisanku pecah dalam pelukkan Yoga. Yoga mendekapku erat. “Trid, Mila ingin kita tetap bersama. Itu pesan terakhirnya…”. Akupun hanya terdiam dalam pelukan Yoga. Hari ini sampai nanti aku tetap mengingatmu sahabatku. Gumamku dlam hati. Aku pun berjalan meninggalkan pemakaman. Namun hatiku akan selalu ingat Mila….Sahabat sejatiku.
Tetangga Favorit
Sebuah cerita sederhana tentang cerita seorang gadis bernama Chika. Yang sangat mengidolakan mbak Nina, tetangga sebelahnya. Hampir tiap hari Chika bertandang ke rumah, entah untuk makan, main, nggosipin seleb ( ya..ampun masih sma udah seneng ngrumpi, dasar anak muda jaman sekarang.). Dan tanpa diketahui oleh Chik, mbak Nina mau pindah!!(lho…kenapa????). penasaran kan pengen tahu kenapa, mari kita lihat drama berikut ini…
(Suasana di kamar tidur Chika, jam 10 siang)
Maminya Chika :“Lemoooootttttt……woooiiiii, banguuuuunnn. UDAH JAM BERAPA NI?dasar lemot!!!” ( Itulah julukannya dan alarm pagi manualnya)
Chika : “Huhen morheen…*” (sambil melebarkan kedua tangannya) (* Guten morgen = selamat pagi dlm bhs Jerman,kan masih ngantuk jadinya huhen morheen hehehe.. ).
Mami : (berfashion show*=berkacak pinggang maksudnya…peace ). “Ohayougozaimasu…”(ohayougozaimasu=selamat pagi dlm bhs jepang) . “Jam berapa ni non??udah jam 10 masih molor...”
Chika : “Tapi kan…”
Mami : “Tapi apa???tapi kemaren malam kamu ada kerja kelompok, itu bukan alasan buat bangun siang tau..”. “Mama..Cuma takut kalau, anak mama satu-satunya ni jadi jelek di mata orang-orang karena suka bangun siang…:”.(mama sambil tetap membelai rambutku). “Sudah..sana mandi, terus makan. Katanya kamu mau pergi ke rumah Ella. Ngiih..sana.” ( sambil menatap mataku, dan kemudian berdiri.) “Mama..mau ke rumah sebelah, mau bantu mereka pindahan…”ucap mama.
Chika : “Apa???”ucapku kaget. “Maksud mama, mbak Nina pindah!!”.
Mami :“Iya..Mbak Nina pindah, soalnya rumahnya sudah di beli sama Pak Kusno…”
Chika : (Aku hanya bisa terpaku mendengar ucapan mama, yang kemudian meninggalkanku sendiri di kamar. Kok..Mbak Nina ga bilang sih kalo mau pindah, ya…maklum sih dia kan sudah bersuami, dan hal seperti ini kan biasa wong cuma pindah rumah saja. Tapi, hal ini menurutku hal yang mengejutkanku karena disamping aku dan Mbak Nina punya hubungan dekat, dia dan suaminya adalah tetangga favoritku. Aku sangat kehilangan mereka, jika mereka pindahT_T). (bangun dari tempat tidur).
( Pindah setting di Rumah Mbak Nina)
Guubraakkk
Chika : (Tiba-tiba aku dengar suara itu, kayaknya dari arah sebelah rumah. Rumah Mbak Nina. Aku cepat-cepat bangun dan mengenakkan sandalku berlari ke depan. Dari kaca, aku lihat banyak orang-orang berkumpul di depan rumah Mbak Nina).
Aku menerobos orang-orang sampe aku ada di depan mereka. Dan yang kulihat…
Chika : “Astagaaa…”( kaget melihat tubuh didepanku). “Mas Erik kenapa ?” (tanyaku pada orang di sebelahku.)
Tetangga : “Mas Erik..tadi jatuh dari atas, waktu ambil antenna. Dipikirnya dia nginjak kayu bawahnya asbes ternyata dia malah nginjak asbes ya..otomatis jatuh. Waktu saya denger gubbraak tadi saya langsung lari kesini. Dan ternyata Mas Erik sudah jatuh, untungnya mobilnya sudah dipindahin dulu, kalo ga…”
Mbak Nina : “Masss…sadar mas, mas..!!mas!!”( sambil mengguncangkan tubuh mas Erik.)
Tetangga : “Tenang mbak…!!Lebih baik Mas Erik di bawa kedalam ( sambil memegang pundak mbak Nina.)
(Setting : Di kamar Mbak Nina)
Mbak Nina : “Mas..!! ( menangis T_T)
Tetangga : “Mbak…saya sudah telepon dokter, sebentar lagi datang..”
Mbak Nina “ Iya..pak, terima kasih. Saya nunggu Mas Erik di sini saja. (Sambil mengusap mata.)
(Beberapa menit kemudian)
Dokter datang.
Dokter : “ehm…ehm….”(sambil memeriksa mas Erik, yang pucat pasi). “ Lebih baik sekarang di bawa ke rumah sakit. Untuk mendapat pertolongan lebih lanjut. Saya akan berikan surat rujukan..”
Mbak Nina : “Iya..dok…”
Chika : “Tenang ya..mbak. Mari…kita tunggu ambulan, dan menyiapkan baju-baju untuk mas Erik. “ ( Sambil memeluk mbak Nina)
Beberapa minggu kemudian, setelah peristiwa tersebut. Mbak Nina sudah pindah, Chika meluangkan waktu pergi ke sana.
Chika : “Permisiii… Spada…mbak Ninaa!!”( sambil mengetok pintu)
Mbak Nina keluar, dengan terburu-buru.
(membuka pintu)
Mbak Nina : “Chikaaa…!!”
Chika : “Mbak Nina…ya..ampun aku kangen banget sama mbak.”
(berpelukan)
Chika : “Mbak…Mas Erik gimana?udah sehat kan mbak?”
Mbak Nina : ”Mbak bersyukur banget sama Tuhan, Mas Erik bisa sehat lagi. Setelah kejadian itu, mbak introspeksi diri… Sebenarnya…”
Chika : “ Ada apa mbak??”
Mbak Nina : “Gini ceritanya, sebenarnya mas Erik itu ngga setuju kalo kita pindah dari rumah yang dulu. Soanya itu rumah keluarga satu-satunya milik keluarga mbak. Mbak juga ngga setuju kalo rumah itu ngga dijual. Malam sebelumnya mbak sama mas Erik bertengkar. Mbak juga sempet maki-maki mas Erik. Kemudian besoknya terjadi peristiwa itu, mbak menyesal sekali….” (menangis)
Chika : “Ehm…begitu toh ceritanya. Ya..udah mbak, yang penting sekarang mas Erik sudah sehat dan bisa bekerja lagi. Dan mbak..sebenarnya…Chika juga sedih waktu tahu mbak Nina mau pindah. Mbak Nina sama mas Erik itu sebenarnya tetangga favoritnya Chika…”
Mbak Nina : “Hah…tetangga favorit??maksudnya???”
Chika : “Ehm…soalnya menurut Chika mbak sama Mas Erik tuh pasangan yang serasi bangeeettt yang pernah Chika kenal..”
Mbak Nina : “Hahahaha…Chika, kamu ada-ada saja. Ya..mbak berterima kasih udah bisa jadi tetangga favorit kamu…”
Chika : “hahahaaha…terima kasih juga mbak, selama ini mbak sering beri solusi kalo Chika ada masalah.”
(Sambil berpelukan )
Ya..itulah cerita sederhana tentang seorang gadis yang mengidolakan tetangganya. Satu makna yang dapat di ambil dari cerita ini adalah sering kita sebagai manusia pada saat emosi tidak bisa menjaga perkataan yng kita keluarkan. Hendaknya kita bisa mengendalikan diri dalam menjaga setiap perkataan kita.
Segala sesuatu ada waktunya…
Aku berdiri menghadap senja. Kala itu, sore hari senja akan menutup dirinya. Kulihat di seberang jalan, seorang lelaki yang kuperkirakan berumur 20 tahunan, berdiri didepan sebuah gereja tua. Ia hanya berdiri, mungkin sekitar 5 menit. Namun, yang kulihat setelah itu dia melangkah maju, membuka gerbang gereja dan memasukinya. Entah apa yang akan dia lakukan. Aku berlalu dari pintu masuk kedalam rumah. Namun, pikiran tentang pemuda itu tak segera enyah dari kepalaku. Aku baru kali ini melihatnya, mungkin dia orang luar daerah komplek ini. Kuhempaskan tubuhku ke ranjang. Namun, tetap pikiranku masih berisi tentang pemuda ini. Dengan hati yang dipenuhi rasa ingin tahu, akupun bangkit dari ranjang. Aku berlari menuju depan rumah. Kemudian, dengan langkah yang kuperlambat aku berjalan menuju gereja tua yang ada diseberang jalan.
Ketika kuberdiri didepan gereja tua itu. Tiba-tiba, aku merasa kecil. Selama ini aku jarang menginjakkan kakiku di gereja. Yah…mungkin hari minggu aku pergi kegereja, namun itu hanya sebuah rutinitas saja. Karena aku seorang kristian dengan kedua orang tuaku aktivis gereja yang rajin. Hampir setiap hari aku mereka pergi kegereja, mengunjungi panti-panti, mengadakan bakti sosial. Namun, semua itu kulihat hanya sebagai sebuah rutinitas dan kewajiban. Tidak kulihat ada rasa sebuah kasih di wajah kedua orang tuaku. Mereka memberikan senyum hanya untuk formalitas dan menunjukkan kewibawaan yang semu. Dan setiap hari pula aku hidup dengan gayaku sendiri. Setiap hari seusai sekolah, kuhabiskan sisa hari dengan berjalan-jalan mengelilingi kotaku dengan ke 3 sahabatku, dengan modal Toyota Vios yang diberikan orang tuaku. Aku akan kembali kerumah setelah lewat pukul 6 sore. Dan kedua orang tua ku pun akan kembali dirumah pukul 7 malam. Kedua orang tuaku tak pernah menggubris, kemana aku pergi?dengan siapa?dan apa yang kulakukan?. Mereka hanya akan menegurku jika aku pulang melebihi pukul 7 malam. Namun, yang kurasa itu hanya teguran biasa. Mereka jarang memarahiku.
Selama ini aku hidup dengan bersantai ria tanpa memikirkan apapun. Semua kulalui dengan jalan mulus. Nilai-nilai ulanganku tidak pernah buruk, kelakuanku di sekolah sangat baik, mungkin jika di rata-rata aku bisa menjadi seorang siswa teladan.
Aku dapat bergonta ganti pacar sesuai keinginanku, dengan modal tampang yang banyak orang mengatakan manis, kulit kuning langsat, rambut sebahu, dan tinggi semampai. Dibalik semua itu, aku merasa hampa. Aku tak ingin hal itu. Yang kuinginkan hanya kedamaian. Ya...kedamaian.
****************
Niatku untuk ingin mengetahui tentang pemuda itu pun memudar, ketika ku melihatnya berdiri di depan pintu dengan seorang lelaki tua yang terlibat pembicaraan yang serius. Aku terhenyak kaget, dengan segera kuberlari bersembunyi di balik pohon. Namun, sebelum niatku berhasil aku menabrak sebuah tong sampah. Bunyi yang terdengar mengakibatkan kedua orang itu pun memalingkan wajahnya.
“Siapa itu??” ucap pemuda itu dengan melangkah menuju asal tempat suara. Aku menutup mulutku rapat-rapat dengan kedua tanganku, sambil menenangkan degup jantungku yang sedari tadi berdebar-debar.
“Hei…apa yang sedang kau lakukan di situ??”ucapnya yang tahu-tahu sudah berdiri dibelakangku, dengan menepuk bahuku. Akupun terhenyak kaget. Tiba-tiba, aku merasa seluruh aliran darah di tubuhku berhenti. Dengan pelan kubalikkan tubuhku, menghadap wajahnya. Ketika kulihat sorot matanya yang lembut, pipiku terasa merah.
Dengan pelan, ia bertanya. “Siapa namamu,non..??”. Aku sedikit kaget, mendengarnya menyebutku non. Aku merasa wajahku sudah memerah seperti tomat.
“Aku Lina…”ucapku dengan kepala tertunduk. “Oh…aku Yohanes, panggil saja Yohan”ucapnya dengan mengulurkan tangannya. Ia pun menjabat dengan keras, hingga aku merasa kaget. “Apa yang sedang kau lakukan dibalik pohon ini??”tanyanya ketika kami berjalan menuju ke gereja. “Aku hanya…hanya…ingin me…melihatmu…” ucapku dengan terbata-bata. Ia terkaget mendengar jawabanku. “Melihatku??”tanyanya lagi dengan ekspresi yang serius. “Ya…”ucapku mantap. Ia pun tersenyum lembut. Aku berjalan pelan di belakangnya. Aku merasa bodoh sekali telah mengatakan yang sebenarnya. “Hei..kenapa hanya berdiri disitu??”tanyanya. Akupun baru menyadari bahwa aku berdiri sendiri. Aku pun segera menyusulnya.
“Terima kasih…kau ingin melihatku.”ucapnya dengan menjabat tanganku sekali lagi. Aku termangu. Ketika kulihat dia melambaikan tangannya, masuk kedalam sebuah mobil dan bayangannyapun semakin mengecil di ujung jalan. Hatiku merasa berbunga-bunga. Aku pun berjalan menuju rumah dengan senyum bahagia. Ketika kulirik jam ditanganku menunjukkan pukul setengah 7 malam. Sebentar lagi kedua orang tuaku pulang. Ku hempaskan tubuhku ke ranjang, dengan kedua tanganku terlentang. Saat kuingat tadi Yohan menjabat tanganku, tersenyum lembut, dan mengatakan Terima kasih…kau ingin melihatku. Hatiku semakin berbunga-bunga. Hingga akhirnya, akupun terlelap dalam buaian mimpi malam.
**********************
Pagi yang cerah, ketika kubuka mataku. Kulihat secercah sinar matahari masuk kedalam jendela kamarku. Aku pun segera bangkit, menyingkapkan kelambu jendela. Kini, seluruh cahaya hangatnya matahari pagi menyinarkan ke seluruh tubuhku. Aku merasa segar. Semangat hidupku kembali menyala. Aku segera berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai, aku pun segera berpakaian. Pagi ini, aku sarapan dengan semangat sekali, hingga kedua orang tuaku merasa heran dengan sikapku. “Lina…”panggil mamaku. “Ya…”.”Kau sedang bahagia ya..??”tanyanya dengan hati-hati. Aku hanya menjawab dengan sebuah senyuman. Senyuman yang mengartikan “Ya”. Kedua orang tuakupun tersenyum lebar. Aku menuju sekolah dengan hati yang gembira. Sayup-sayup terdengar dari tape mobil, alunan lagu When I fall in love. Love??apakah aku sedang jatuh cinta??, tiba-tiba aku teringat tentang kata-kata itu. Aku semakin girang, dengan langkah mantap kumasuki gerbang sekolah, setelah kuparkirkan mobilku.
“Lin…”panggil seseorang dari belakang. Segera kubalikkan badanku. Sofi berdiri melambaikan tangannya. Aku tersenyum melihatnya. Ia pun menyusulku, kami berdua berjalan menuju kelas. Kulewati pelajaran hari ini dengan semangat yang baru.
Hari ini aku tidak melewatkan sisa hari dengan jalan-jalan bersama-sama ke 3 sahabatku. Aku segera pulang menuju kerumah, ketika berada di ujung jalan, kulihat mobil Suzuki katana putih milik Yohan terparkir gereja tua. Dengan segera kuparkirkan mobilku di belakang mobil Yohan. Aku pun menuju kedalam. Yohan melambaikan tangannya. Aku duduk di sampingnya. Kami berbicara mengenai kehidupan, agama, dan apa saja yang dapat kami perbincangkan. Ketika kulihat jam menunjukkan pukul 5 sore, Yohan segera pamit kepada bapak tua itu. Aku juga. Kami berpisah di depan gerbang gereja tua. Setiap hari kami bertemu dan berbincang tentang banyak hal, semakin hari aku semakin mengenalnya. Hingga akhirnya, kuberanikan diri untuk menanyakkan hal pribadi. “Han…apakah kau sudah memiliki pacar??”tanyaku dengan hati-hati. Ia menghadap wajahku, ia tersenyum lembut. “Tidak...”jawabnya dengan lembut. Aku pun semakin nekat. “Apakah kau tidak ingin memiliki seseorang yang menyayangimu, menjagamu dan memperhatikanmu…??”tanyaku kemudian. Dengan senyumnya, ia menjawab “Aku ingin…, namun sekarang aku ingin mewujudkan cita-citaku.” Ucapnya dengan lembut. “Hmm… Aku ingin mengatakan sesuatu.”. Dengan wajah yang serius ia memperhatikanku. “Ya…katakanlah!!”ucapnya kemudian.
“Yohan, aku menyayangimu, aku menyukaimu…”. Ia tersenyum lembut kepadaku. “Lina…aku juga menyayangimu, aku juga menyukaimu, namun hanya sebagai seorang adik..”ucapnya dengan melingkarkan tangannya ke bahuku. Akupun terdiam. Tanpa kuduga, ia mengecup keningku dengan mesra. “Saat ini aku ingin mewujudkan cita-citaku, suatu saat kelak kau akan menemukan lelaki yang tepat. Saat kau dewasa dan siap menghadapi kehidupan…”ucapnya dengan memandang mataku lekat-lekat. Tak kusadari, kepalaku tersandar ke dadanya yang bidang, sesaat aku merasakan kedamaian. Aku merasa aman, merasakan degup jantungnya. Ia merenggangkan pelukannya, dan berdiri menghadapku. “Aku akan pergi. Suatu saat nanti kita akan bertemu kembali…”ucapnya dengan melambaikan tangan dan menebarkan senyum lembutnya.
Perasaanku membuncah, namun akhirnya dapat kumengerti bahwa aku harus merelakannya. Dia meninggalkan kota ini untuk cita-citanya.
Setahun kemudian…
Di pagi yang cerah, aku mendapatkan sepucuk surat. Lina, inilah cita-citaku. Aku mengabdikan seluruh hidupku untuk melayaniNya. Aku berdoa untukmu, kelak nanti kau akan menemukan pria yang sangat menyayangimu, mencintamu, menjagamu.
Semua ada waktunya…Kuharap kau dapat mengerti. Aku masih tetap kakakmu…
Dibawah surat terdapat selemnar foto. Surat dari Pdm. Yohanes, S.th, dengan jasnya ia terlihat gagah. Tak terasa air mataku pun menetes mambasahi kedua pipiku. Aku memandangi foto tersebut. “Terima kasih kakak, kau telah menyadarkanku. Inilah cita-citamu yang sebenarnya…”. Ya…segala sesuatu ada waktunya.
Sosok Di Ujung Jalan
Gerimis hujan mewarnai jalan yang kulalui. Dengan kecepatan sedang kulajukan motorku. Aku tidak ingin mengulangi kejadian buruk dan memalukan itu. Tepat, sebulan yang lalu, hari gerimis saat aku keluar dari gerbang sekolah, kulajukan motorku dengan kecepatan tinggi. Kulakukan hal ini, karena kupikir agar cepat sampai dirumah. Namun, kesialanku ada saat itu, ketika aku akan menyalip sebuah mobil sedan didepanku. Sebuah becak dengan lancangnya tiba-tiba menyeberang didepanku. Keseimbanganku pun langsung goyah. Dengan segera, tanpa berpikir panjang lagi, kubantingkan setirku kekanan jalan. Braakkk….. Dalam hitungan detik seluruh tubuhku sudah berlumuran lumpur dan air parit. Yack…sungguh menjijikan. Orang-orang yang ada di sekitar tempat kejadian itu langsung datang bergerombol. Mereka memandang ke arahku, tanpa adanya niatan untuk menolongku. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Sialan, umpatku dalam hati. Kenapa mereka hanya memandangiku seperti melihat atraksi topeng monyet.
Seluruh orang baru bersikap “ngeh” ketika seorang pemuda berkulit sawo matang, datang menerobos gerombolan orang-orang itu.
“Mari…saya bantu kamu.”ucapnya sambil mengulurkan kedua tangannya. Orang-orang yang berkerumun disekitarku langsung bertindak membantu pemuda ini. Ada yang mencoba mengangkat motorku dan meminggirkannya, ada yang memberiku segelas minum utuk menenangkan hatiku yang sudah tidak karuan dari tadi, ada juga yang menanyakan alamat rumahku, agar dapat memberitahu kedua orang tuaku tentang kejadian ini. Entah pesona apa yang dipancarkan oleh pemuda ini,sehingga orang-orang langsung bersikap “ngeh”. Akupun berjalan tertatih-tatih dengan bimbingan kedua tangan pemuda yang ada disampingku. Jantungku berdegup keras, kala tubuhku berada sangat dekat dengan tubuhnya. Kedua tangannya yang kuat, memegang kedua lenganku. Membimbingku berjalan kesebuah rumah diseberang jalan. Pipiku terasa panas, saat mendengar suaranya menanyakan namaku.
“Siapa namamu…?”
“Aku…Lucia” Aku sungguh heran kenapa tidak ada rasa jijik pada pemuda ini, ketika membantuku berdiri dan berjalan, padahal seluruh tubuhku penuh dengan bau yang sungguh memualkan perut. Bahkan, tanpa ragu ia menuntunku. Oh…tidak, beberapa kali aku sempat mencuri pandang kearahnya. Wajahnya yang bersih tanpa jerawat, walaupun berkulit sawo matang, tidak menghilangkan kemanisannya. Tatapan matanya yang tajam menilai, menyorotkan suatu ketegasan. Tubuhnya yang tegap dengan otot-otot yang bidang membuat aku semakin merasa aman dalam tuntunannya.
“Duduklah disini…akan aku ambilkan obat-obatan dan handuk”. Ia kembali dengan membawa kotak obat dan sehelai handuk, serta seorang anak kecil yang membawa air hangat di dalam baskom.
“Diamlah! Aku akan membersihkan kotoran dan luka di kakimu…”
Pemuda inipun berlutut di depanku, dengan pelan namun pasti ia lepaskan kedua sepatuku yang sudah tidak berbentuk lagi. Dengan lembut, ia angkat kedua kakiku, dan meletakkanya didalam baskom yang berisi air hangat. Dengan telaten ia mengurut kaki kananku yang terkilir.
“Aduh…”ucapku ketika ia mengurut bagian kaki kananku yang paling sakit.
“Ini yang sakit ya…”ucapnya lembut.
“Tahan dulu sakitmu, aku akan membenarkan kakimu yang agak “slendro” ini “. Dengan gerakan yang amat mahir, ia menggerakkan kaki kananku, tangan kanannya memutar kaki kananku, tangan kirinya memegang telapak kakiku.
“Auuww…”seketika aku berteriak karena kesakitan. Secara refleks pula tubuhku tiba-tiba roboh menimpa tubuhnya yang ada dibawahku. Sedari tadi, sebenarnya tubuhku hanya duduk diujung sofa karena punggungku sangat terasa nyeri ketika aku mencoba berselonjor. Tubuhku menindih tubuhnya, refleks pula ia memegang tubuhku. Kamipun terjatuh dilantai, wajahku berada sangat dekat dengan wajahnya. Tidak!!!matanya sungguh-sungguh bening, dari jarak sedekat ini aku dapat mendengar hembusan nafasnya yang tereng-engah, entah karena apa. Namun, rupanya pemuda ini segera sadar. Dia bangkit dan membantuku berdiri.
“Kau tidak apa-apa kan..?”ucapnya dengan membantuku duduk di sofa kembali.
“Ti..tidak. Aku tidak apa-apa.”
Di pintu dua orang berdiri melihat kami berdua.
“Lucia…anakku. Kau tidak apa-apa??”ucap wanita setengah baya itu dengan berjalan ke arahku.
“Mama…”ucapku dengan menoleh kea rah pintu.
“Duh,..sudah mama bilang berkali-kali. Jangan ngebut….Sekarang kalau sudah seperti ini. Kamu itu….”Aku hanya bisa terdiam mendengar omelan mamaku.
“Dia tidak apa-apa, tante…Hanya terkilir dan sedikit luka lecet.”sahut pemuda ini kepada orang tuaku. Dengan sigap, kedua orang tua ku menoleh.
“Nak terima kasih atas pertolonganmu”ucap Papa pada pemuda ini.
“Tidak apa-apa Om…”dengan cepat Papa dan Mama segera membantuku berjalan menuju mobil. Aku menoleh kebelakang sebelum mobil melaju meninggalkan rumah pemuda itu. Pemuda itu masih berdiri tegap, hingga mobilpun semakin melaju meninggalkan jauh pemuda itu, sampai tak dapat lagi kupandang lagi sosoknya. Sosok yang menghilang di ujung jalan.